Ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘Kadang emas tak terlihat berkilau sekalipun dia berada tepat dihadapan kita’. Ya, pepatah itu menurut saya adalah suatu kalimat yang sangat benar. Mengapa?? Karena itulah yang saya rasakan dan alami beberapa waktu kebelakang ini. Kenyataan yang saya hadapi, yang membuat saya sadar, bahwa apa yang mungkin kita sukai kadang belum tentu cocok dengan kita. Dan justru emas yang tidak berkilau itulah yang justru telah berada tepat dihadapan kita meski kita tidak menyadarinya.
Tulisan ini adalah suatu penceritaan saya tentang kejadian yang saya alami beberapa waktu kebelakang. Saya beberapa bulan yang lalu secara tidak sengaja mengenal seorang cewek karena ingin menyelesaikan tugas, sebut saja dia Putri, dan secara tidak sengaja pula, tugas yang saya kerjakan materinya sama dengan yang dia kerjakan. Akhirnya saya meminta arahan dari dia. Dan dari sejak itulah saya mulai dekat dengannya. Kita sering menyapa dan ngobrol di Y!M. Sekitar 2 bulan kemudian, kami semakin dekat. Dan disitulah saya sadar, saya menyukainya. Dan dia pun kelihatannya memiliki rasa yang sama dengan saya.
Hubungan kami memang semakin dekat, tapi seiring itu juga kami banyak mengalami pertengkaran satu sama lain. Baik pertengkaran besar maupun kecil. Disitu saya mulai sadar, penyebabnya adalah saya cemburu. Ditambah dengan keadaan kami yang belum memiliki hubungan yang bisa disebut jelas. Saya mencoba merubah sifat dan keadaan seperti yang dia harapkan. Tapi jelas itu bukan sesuatu yang mudah. Saya mulai memberanikan diri mengajak dia jalan untuk memperdekat hubungan dan memperbaiki suasana. Tapi setiap saya mengajaknya, saat itu juga dia menolaknya.
Disaat seperti itu saya secara tidak sengaja menjadi dekat dengan seorang yang lain. Disaat saya yang sedang pusing dengan keadaan hubungan saya dengan Putri itu saya mendadak jadi dekat dengan Rani. Saya merasakan sekali, bahwa saya nyaman dengan keberadaan Rani yang bertolak belakang dengan Putri. Dan kita tidak pernah sekalipun bertengkar, berbeda dengan keadaan saya dengan Putri. Tapi disaat itu juga saya sadar bahwa saya tidak mungkin dekat dengan mereka berdua sekaligus. Akhirnya saya lebih memilih Putri, selain saya sudah lebih lama mengenal dia, saya juga sudah memiliki perasaan yang serius kepadanya. Dan saya pun memutus kontak dengan Rani. Ya, saya tahu itu memang bukan suatu perbuatan yang bisa dipuji, mendadak memutuskan kontak dengan Rani, tapi saya tidak punya pilihan lain.
Hubungan saya dengan Putri sempat membaik beberapa kali, tapi beberapa kali juga, hubungan kami memburuk. Saya berfikir, tidak mungkin tetap begini seterusnya. Akhirnya saya mencoba menanyakan kejelasan hubungan kami. Tapi Putri terus saja mengelak. Dan setiap kali saya mengajak dia jalan, untuk mencoba membicarakan hal ini, dia tetap menolaknya. Hingga akhirnya, puncak dari hubungan kami terjadi. Waktu itu kuliah telah diliburkan berkenaan dengan liburan akhir semester. Dan dia menjadi anggota panitia suatu acara di kampus. Dia minta bertemu dengan saya setelah dia selesai dengan acaranya, saya menyanggupi. Kami bertemu di KFC di mall dekat kampus. Suasana sangat awkard.
Akhirnya karena tidak bisa menyusun kata dan tidak bisa menahan diri lagi, saya langsung saja mengatakan semua perasaan saya. Dan jawabannya adalah? Tidak. Ya, tidak. Saya mencoba meyakinkannya lagi untuk kembali berfikir, saya tentu tidak mau semuanya berakhir begini saja. Tapi pada akhirnya tetap saja jawabannya adalah tidak. Sudah waktunya dia pulang, dan saya pun pulang. Saya pulang sebagai orang yang kalah. Saya merasa mungkin ini sudah takdir, tetapi tetap saja dalam hati saya tidak rela.
Setelah kejadian itu saya jadi dingin dan tidak tahu harus bagaimana. Dan disaat itulah Rani kembali muncul dalam kehidupan saya. Tetapi waktu itu saya tidak ingin terlalu dekat dengannya karena perasaan saya masih kepada Putri. Dan menjadi dekat dengan Rani hanya akan membuat dia seperti jadi pelarian saya. Tetapi nyatanya tidak bisa, saya tidak bisa menahan diri dari Rani. Dia begitu berbeda dengan Putri. Apa yang selama ini saya usahakan, saya tahan, dan saya coba merubah, semuanya tidak berarti di mata Rani. Dia menganggap semua itu hanya sifat saya dan tidak mempermasalahkannya. Dan inilah yang membuat saya terdiam. Saya jadi berfikir, apakah yang telah saya lakukan demi Putri selama ini sia-sia saja? Apakah tidak berarti? Saya baru menyadari bahwa ada juga orang yang bisa menerima keadaan saya yang seperti ini, apa adanya.
Dengan keadaan begini saya jadi semakin dekat dengan Rani. Saya merasa sangat nyaman berada bersamanya, dan mungkin inilah yang saya cari selama ini. Yang mungkin semua orang cari selama ini. Orang yang dapat sungguh-sungguh menerima keadaan dirinya seperti apa adanya. Tapi keadaan itu tidak bertahan lama tanpa terpaan angin. Saya dan Putri memang masih melakukan kontak beberapa kali meski sangat jarang. Dan disaat saya yang sudah memiliki hubungan dekat dengan Rani tersebut, Putri berkata bahwa dia ingin kembali memberi saya kesempatan. Otak saya kacau dengan pernyataan tersebut. Di satu sisi, saya masih menyimpan perasaan terhadap Putri, tetapi di lain sisi, saya sudah terlanjur dekat dengan Rani. Ini jelas membuat saya bingung, terutama bahwa Rani adalah orang yang sangat bisa membuat saya nyaman berada didekatnya.
Sempat terlintas dikepala saya, untuk meninggalkan Rani dan kembali pada Putri seperti yang dulu telah saya lakukan. Tapi saya merasa salah untuk melakukan hal itu, dan saya sudah terlalu jauh dengan Rani. Maka saya mengiyakan perkataan Putri, tanpa meninggalkan Rani. Tapi apa yang saya dan Putri setujui pun ternyata tidak bertahan lama, dia masih seperti dulu, dan saya pun masih seperti saya yang dulu. Hingga akhirnya puncak dari ‘kembali’ ini adalah, saya meninggalkan Putri dengan penawarannya untuk memberi saya kesempatan itu. Saya memilih pilihan ini karena tidak suka dengan sikapnya yang membanggakan cowok lain didepan saya. Memang itu bukan hal yang besar bagi saya, tapi tentu saja saya tidak suka jika dia melakukannya dengan berlebihan. Akhirnya disitulah, hubungan kami berdua benar-benar selesai.
Saya pun tetap dengan hubungan saya dengan Rani yang akhirnya membuahkan suatu hal yang sangat berharga bagi saya, yaitu sebuah hubungan yang jelas dengannya. Tanggal 4 Februari 2011, saya dengan resmi telah menjalin hubungan dengannya. Sempat ada kekhawatiran dalam pikiran saya, apakah ini adalah hubungan yang benar? Hubungan yang memang seharusnya saya jalani? Pada akhirnya semua pertanyaan saya telah terjawab dengan semua perbuataannya. Dia mau repot untuk saya padahal dia sendiri pun sedang repot dengan urusannya sendiri. Dia mau men-support saya bagaimanapun keadaan saya. Dan itulah yang membuat dia sangat berarti bagi saya. Lebih dari apapun.
Seperti yang telah saya jelaskan diatas, ‘Kadang emas tak terlihat berkilau sekalipun dia berada tepat dihadapan kita’. Saya merasa emas itu adalah Rani. Dia telah berada tepat dihadapan saya, hanya saja saya tidak menyadarinya. Emas yang sangat berarti bagi saya itu, yang pernah saya tinggalkan sekali, dan masih mau memaafkan saya, yang selalu ada bagi saya kapanpun saya membutuhkan dia.
Seperti kata Raditya Dika dalam bukunya yang berjudul Marmut Merah Jambu, “Cinta mungkin buta, tapi kadang, untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas, kita hanya butuh kacamata yang pas”. Dan bagi saya, cinta itu adalah Rani, sedangkan kacamatanya, saya mendapatkannya dari pengalaman saya dengan Putri. Tidak ada pertemuan yang sia-sia, pertemuan saya dengan Putri telah memberikan saya kacamata untuk dapat melihat cinta dengan lebih jelas, dan pertemuan saya dengan Rani adalah mendapatkan cinta itu.
Tulisan ini saya buat dan dedikasikan untuk Putri, orang yang pernah ada dihati saya lebih dari sekali, dan lebih dari sekali itu juga saya dibanting olehnya. Tulisan ini juga saya buat dan dedikasikan untuk Rani, orang yang sampai sekarang masih ada di hati saya, dan mungkin sampai seterusnya begitu jika Yang Maha Kuasa mengijinkannya.
Terima kasih untuk segalanya Rani, terima kasih atas kebaikan dan sikap kamu kepada saya, karena itu sangat berarti bagi saya. Dan kamu takkan pernah bisa terganti bagi saya selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar